Feeds:
Posts
Comments

050306bo

Kabupaten Boven Digul dibentuk dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2002, hasil pemekaran dari Kabupaten Merauke, bersamaan dengan sejumlah kabupaten lain di bagian selatan Pulau Cenderawasih, yakni Kabupaten Asmat dan Kabupaten Mappi. Kabupaten Boven Digul tercatat sebagai salah satu kabupaten di wilayah Perbatasan RI – Papua Nugini, dengan ibu kotanya di Tanah Merah.

Kabupaten Boven Digul, terdiri atas Distrik Kouh, Distrik Waropko, Distrik Mindiptana, Distrik Jair, dan Distrik Mandobo, yang akan bertambah dengan sejumlah distrik karena pemekaran. Wilayah itu juga terdiri atas 88 kampung, namun juga akan ada penambahan seiring kebutuhan dan perkembangan kemasyarakatan dan perencanaan Tata Pemerintahan dan Pembangunan.

Sesuai dengan UU No 26 Tahun 2002, disebutkan kabupaten ini mempunyai batas wilayah. Sebelah utara berbatasan dengan Distrik Suator Kabupaten Asmat, dan Distrik Oksibil Kabupaten Pegunungan Bintang. Sebelah timur berbatasan dengan Negara Papua Nugini. Sebelah selatan berbatasan dengan Distrik Muting dan Distrik Okaba Kabupaten Merauke. Sebelah Barat berbatasan dengan Distrik Edera, Distrik Obaa, dan Distrik Citak Mitak Kabupaten Mappi.

Semasa penjajahan Belanda, Kabupaten Boven Digul, yang dahulu dikenal dengan sebutan Digul Atas, merupakan lokasi pengasingan tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia. Digul Atas, terletak di tepi Sungai Digul Hilir, Tanah Papua bagian selatan.

Dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid 4, disebutkan Boven Digoel dipersiapkan dengan tergesa-gesa oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk menampung tawanan “pemberontakan November 1926″. Boven Digul kemudian digunakan pula sebagai tempat pembuangan pemimpin-pemimpin pergerakan nasional. Jumlah tawanannya tercatat 1.308 orang.

Tokoh-tokoh pergerakan nasional yang pernah dibuang ke sana antara lain Sayuti Melik (1927-1938), Mohammad Hatta (1935-1936), Muchtar Lutffi, Ilyas Yacub (tokoh Permi dan PSII Minangkabau).

Luas Boven Digul sekitar 10.000 hektare. Daerah itu berawa-rawa, berhutan lebat, dan sama sekali terasing. Hubungan ke daerah lain sulit, kecuali melalui laut. Berbagai suku Irian (Papua) yang masih primitif berdiam di sepanjang tepian sungai.

Karena belum tersedia sarana kesehatan, penyakit menular sering berjangkit. Penyakit malaria membawa banyak korban dengan serangan demam dan kencing hitam. Sebagai contoh, Ali Arkham meninggal dunia karena penyakit ini.

Tempat pembuangan pejuang kemerdekaan itu terbagi atas beberapa bagian, yakni Tanah Merah, Gunung Arang (tempat penyimpanan batu bara), zone militer yang juga menjadi tempat petugas pemerintah), dan Tanah Tinggi. Sewaktu rombongan pertama datang, Digul sama sekali belum merupakan daerah permukiman.

Rombongan pertama sebanyak 1.300 orang, sebagian besar dari Pulau Jawa, diberangkatkan pada Januari 1927. Dan akhir Maret 1927 menyusul rombongan yang lain dari Sumatera, jumlahnya ratusan orang. Mula-mula mereka ditempatkan di Tanah Merah. Dua tahun kemudian, melalui seleksi ketat, sebagian dipindahkan ke Tanah Tinggi.

Pada tahun-tahun pertama, ratusan orang meninggal karena kelaparan dan sakit. Penderitaan itu menyebabkan banyak orang buangan mencoba melarikan diri ke Australia. Mereka menggunakan perahu-perahu kecil buatan sendiri, tetapi sedikit saja yang berhasil. Sebagian terpaksa kembali, lainnya mati tenggelam. Selain itu, muara sungai dijaga kapal Belanda, sementara orang Irian, ketika itu menunjukkan sikap tak bersahabat.

05bovend

Pada waktu Perang Pasifik meletus dan Jepang menduduki Indonesia, tawanan Boven Digul diungsikan oleh Belanda ke Australia. Pemindahan itu didasari kekhawatiran tahanan akan memberontak jika tetap di Boven Digul. Diharapkan, orang-orang Indonesia yang dibawa ke Australia akan membantu Belanda. Ternyata, tahanan politik itu mempengaruhi serikat buruh Australia untuk memboikot kapal-kapal Belanda yang mendarat di Benua Kanguru. Nantinya setelah Sekutu berhasil memperoleh kemenangan, tawanan itu dikembalikan ke tempat asalnya di Indonesia.

250px-Peristiwa_madiun

Sejarah mencatat Boven Digoel (kemudian disebut Boven Digul) sebagai bagian integral dalam lintasan sejarah Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Di tempat itu banyak bukti sejarah yang terdiam kaku tak terawat. Padahal, benda-benda bernilai historis itu merupakan alat bukti, bahkan bisa dijadikan bahan pelajaran sejarah perjuangan pendiri bangsa ini bagi generasi sekarang.

Sejarah mencatat pula, pada zaman Belanda, Digul merupakan tempat yang menakutkan, jauh terisolasi di tengah lebatnya hutan belantara. Mengerikan. Bukan hanya karena alamnya demikian keras, namun juga ada siksaan kaum kolonialis, ada tangisan kesedihan, kegeraman dan kertakan gigi, bahkan darah yang tertumpah untuk sebuah perjuangan membebaskan diri dari belenggu kolonialis.

Kini, Boven Digul bukanlah Digul yang dulu. Saat ini Digul telah menjadi kabupaten baru yang disebut Kabupaten Boven Digul.

muso

Musso atau Paul Mussotte bernama lengkap Muso Manowar atau Munawar Muso lahir: Kediri, Jawa Timur Tahun 1897, Ia adalah seorang tokoh komunis Indonesia yang memimpin Partai Komunis Indonesia  (PKI) pada era 1920-an dan dilanjutkan pada Pemberontakan Madiun 1948.

Musso adalah salah satu pemimpin PKI di awal 1920-an. Dia adalah pengikut Stalin dan anggota dari Internasional Komunis di Moskwa Pada tahun 1925 beberapa orang pemimpin PKI membuat rencana untuk menghidupkan kembali partai ini pada tahun 1926, meskipun ini ditentang oleh beberapa pemimpin PKI yang lain seperti Tan Malaka,. Pada tahun 1926 Musso menuju Singapura dimana dia menerima instruksi langsung dari Moskow untuk melakukan pemberontakan kepada penjajahan Belanda. Musso dan pemimpin PKI lainnya, Alimin, kemudian berkunjung ke Moskow, bertemu dengan Stalin, dan menerima pemerintah untuk membatalkan pemberontakan dan membatasi kegiatan partai menjadi dalam bentuk agitasi dan propaganda dalam perlawananan nasional. Musso akan tetapi berpikiran lain. Pada bulan November 1926 terjadi beberapa pemberontakan PKI di beberapa kota termasuk Batavia (sekarang Jakarta), tetapi pemberontakan itu dapat dipatahkan oleh penjajah Belanda. Musso dan Alimin ditangkap. Musso lsetelah keluar dari penjara pergi ke Moskow, tetapi kembali ke Indonesia pada tahun 1935 untuk memaksakan “barisan popular” yang dipimpin oleh 7 anggota Kongres Comintern. Akan tetapi dia dipaksa untuk meninggalkan Indonesia dan kembali ke Uni Sovyet pada tahun 1936. Continue Reading »

1948-Madiun_Affir-05b 180px-Peristiwa_madiun madiun-2

Sesudah pekan olah raga nasional (PON) 1948 di Solo, kota Solo mengalami peristiwa yang kemudian ternyata suatu permulaan keributan besar “Pemberontakan PKI”. Dipimpin Muso dikota Madiun. Di zaman Revolusi memang kota Solo terkenal sebagai kota “ruwet”, walaupun tampaknya keluar saban malam pertunjukan Sriwedari dimana masyarakat penuh bergembira ria. Tapi dibelakang tabir poltik berjalan pertentangan pertentangan antara partai golongan “Murba” (antara lain anggotanya GRR dan barisan Banteng) dengan partai-partai dari golongan FDR (Front Demokrasi Rakyat terdiri dari PKI, partai buruh, Pesindo dan lain-lain). Keduanya menamakan diri sebagai partai kiri anti imperialis. Pertentangannya antara lain soal pro dan anti Linggarjati. Selain itu juga pertentangan antara pimpinannya. Continue Reading »

Peristiwa Madiun (atau Madiun Affairs) adalah sebuah konflik kekerasan yang terjadi di Jawa Timur bulan September – Desember 1948  konfili sesama golongan kiri yang anti imperialis.  Peristiwa ini diawali dengan diproklamasikannya negara Soviet Republik Indonesia pada tanggal18 September 1948 di Madiun oleh Muso, Seorang tokoh Partai Komunis Indonesia dengan didukung oleh Menteri Pertahanan saat itu, Amir Sjarifuddin.

madiun 1

Pada saat itu hingga era Orde Lama peristiwa ini dinamakan Peristiwa Madiun (Madiun Affairs), dan tidak pernah disebut sebagai pemberontakan Partai Komunis Indonesia  (PKI). Baru di era Orde baru  peristiwa ini mulai dinamakan pemberontakan PKI.

Bersamaan dengan itu terjadi penculikan tokoh-tokoh masyarakat yang ada di Madiun yang tidak baik itu tokoh sipil maupun militer di pemerintahan ataupun tokoh-tokoh masyarakat dan agama.

“Njoto sebagai intelektual yang cerdas, dan juga disegani dan dikenal luas di
kalangan pekerja seni jelas menunjukkan pada kita bagaimana kita para pekerja seni, budaya, ilmuwan dan intelektual pada umumnya tidak boleh melupakan kesadaran politik. Politik itu penting sekali. Jika kita menghindarinya, kita akan digilas mati olehnya. Oleh sebab itu dalam hal apapun dan kapan saja pun politik harus menuntun segala kegiatan kita”

Saat terjadi polemik mengenai Soekarnoisme antara Merdeka melawan Harian Rakjat (Koran resmi PKI), Njotolah yang menulis seluruh polemik itu dengan cemerlang. Para pengamat sejarah pers nasional mencatat polemik antara harian Merdeka dan Harian Rakjat sebagai yang terbesar dalam sejarah. Kedua belah pihak yang berpolemik sama sama membukukan jalannya pertarungan pena itu.

Kekuatan lain seorang Njoto adalah dayanya dalam melihat sisi baik seseorang. Pernah ia menyelamatkan Ernest Hemingway dari kutukan massa ketika ramai-ramai film Amerika diserang. Njoto menyembunyikan nama pengarang Amerika, pahlawan perang dunia II itu dari sebuah iklan film yang mencantumkan namanya. Tidak ada yang buruk dari Hemingway karenanya ia pantas diselamatkan kata Njoto saat itu. Continue Reading »

M.H.Lukman Njoto atau Njoto adalah satu dari banyak nama yang muncul saat kita membaca atau menelusuri literature dan jejak sejarah gerakan komunis di Indonesia.
Orang-orang komunis yang sering diungkapkan Soekarno (dalam setiap pidatonya) banyak berjasa dalam perjuangan bangsanya. Beribu-ribu mereka dibuang ke tempat-tempat pembuangan ke Digul atau mati dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Njoto2

M. H. Lukman Njoto atau Nyoto saja adalah Menteri Negara pada pemerintahan Soekarno. Nyoto juga merupakan wakil Ketua CC PKI  dan sangat dekat dengan D.N.Aidit. Continue Reading »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.